Bagian 1. Prinsip-Prinsip Kendali Umpan-Balik
Secara
umum, sistim kendali dapat diklasifikasikan dalam dua golongan: ikal terbuka
dan ikal tertutup. Pada sistim ikal terbuka (loop terbuka) Gambar 11.1(a),
feedback tidak digunakan, sehingga pengendali harus secara bebas menentukan
signal yang bagaimana yang harus diberikan kepada aktuator. Kesulitan yang
dihadapi dengan cara ini adalah bahwa pengendali tidak mengetahui
dengan sebenarnya apakah aktuator telah melaksanakan apa yang harus
dilaksanakan.
Pada sistim
ikal tertutup, yang juga dikenal sebagai sistim kendali umpan balik (feedback),
keluaran (output) dari sistim secara tetap dipantau oleh sensor [Gambar
11.1(b)]. Sensor mengambil sampel keluaran dari sistim dan memberikannya
kembali kepada pengendali. Dikarenakan pengendali mengetahui apa sebenarnya
yang dilakukan oleh sistim maka pengendali dapat melakukan
pengaturan-pengaturan yang diperlukan untuk menjaga keluaran sistim pada
keadaan yang diperlukan. Kemampuan koreksi diri dari sistim kendali ikal
tertutup ini menjadikannya lebih cocok dari sistim ikal terbuka dalam banyak
aplikasi dilapangan.
Gambar 1.1. Sistim kendali ikal terbuka dan ikal tertutup
Pusat dari
suatu sistim kendali adalah pengendali (controller), dalam
bentuk suatu rangkaian analog ataupun digital yang menerima data dari
sensor-sensor, melakukan proses pengambilan keputusan dan mengirimkan
perintah-perintah yang diperlukan ke aktuator. Secara
umum, pengendali berusaha mempertahankan variabel yang dikendalikan (controlled variabel)
– seperti misalnya suhu, ketinggian permukaan zat cair, posisi, kecepatan –
pada nilai tertentu yang dikenal sebagai set point (SP).
Sistim kendali umpan-balik melaksanakan hal ini dengan memantau besarnya sinyal
kesalahan (error signal) (E), yang berasal dari selisih antara nilai
variabel yang dikendalikan terhadap nilai yang diinginkan. Berdasarkan besarnya
nilai sinyal kesalahan ini, selanjutnya pengendali menentukan besar dan arah
untuk aktuator.
Gambar
1.2. menunjukan diagram blok dari dua klasifikasi utama dari sistim-sistim
kendali umpan-balik: yakni kendali proses dan mekanisme servo. Untuk suatu
sistim kendali proses [Gambar 11.2(a)], tugas dari pengendali adalah untuk
mempertahankan suatu set point tetap walaupun terjadi gangguan-gangguan sebagai
contoh, mempertahankan suatu besaran suhu yang tetap dalam suatu ruangan oven,
walaupun pintu oven sering dibuka – tutup. Pada sistim mekanisme servo [Gambar
11.2(b)], tugas dari pengendali adalah untuk mengatur agar variabel yang
dikendalikan mengikuti perubahan nilai set point – sebagai contoh, perpindahan
suatu lengan robot dari satu posisi ke posisi lain.
Gambar 1.2. Diagram blok sistim-sistim kendali umpan-balik
Pendekatan
teknik untuk masalah rancangan suatu pengendali mekanisme servo berbeda dengan
hal yang sama untuk sistim kendali proses industri. Untuk suatu sistim
mekanisme servo seperti pada kendali lengan robot, fungsi transfer dari
masing-masing komponen biasanya diketahui atau dapat dihitung. Sebagai
contoh, fungsi-fungsi transfer dari motor-motor dan sensor-sensor biasanya
diberikan oleh pabrik pembuat. Fungsi transfer dari komponen-komponen mekanik
dapat dihitung berdasarkan aturan-aturan Fisika (contoh, momen inersia) dan dari
data empiris. Respons dari mekanisme servo dapat dimodelkan dengan menggunakan
Matematika tingkat tinggi, dan karakteristik yang teliti dari pengendali
selanjutnya dicari. Sebaliknya, untuk suatu sistim kendali proses yang besar,
terdapat banyak faktor yang mempengaruhi unjuk-kerja dari sistim sehingga para
ahli teknik melakukan lebih banyak langkah-langkah pendekatan empiris. Hal ini
berarti bahwa digunakan suatu pengendali dengan kegunaan umum, kemudian
mengaturnya agar dapat memenuhi spesifikasi-spesifikasi dari suatu sistim
tertentu.
1.1.
Kriteria Unjuk Kerja
Kriteria
unjuk kerja adalah berbagai parameter-parameter yang dapat diiukur dan
mengindikasikan seberapa baik (atau buruk) suatu sistim kendali. Hal ini dibagi
menjadi dua, yakni parameter-parameter transient (yang
berubah) dan parameter-parameter steady-state (tidak berubah).
Alur tepat
yang diambil oleh variabel yang dikendalikan pada saat berubah dari satu posisi
ke posisi berikutnya disebut sebagai respons transient. Tinjau
karakteristik dari suatu lengan robot yang responsnya ditunjukkan pada Gambar
11.3. Lengan robot ini digerakkan dari posisi 0° ke posisi 30°, yang
ditunjukkan dengan jejak garis putus-putus. Jenis perintah ini (perubahan
dengan segera dari satu posisi ke posisi berikutnya) disebut step
change. Respons aktual dari sistim ditunjukan dalam jejak garis tebal.
Seperti yang terlihat, terdapat perbedaan antara alur yang ideal dengan alur
yang sebenarnya yang dilalui oleh lengan robot. Salah satu pertimbangan utama
disini adalah seberapa cepat sistim dapat mencapai kecepatannya (rise time).
Lengan robot yang sebenarnya tidak dapat dengan serta-merta dapat bergerak
dengan kecepatan yang cukup untuk mengikuti alur yang ideal. Rise time (T)
biasanya dinyatakan sebagai waktu yang diperlukan oleh variabel yang
dikendalikan untuk berubah arah dari 10 ke 90% ke posisi barunya. Parameter
transient yang lainnya adalah overshoot. Sekali lengan robot telah
bergerak, maka momentum yang dimilikinya akan mempertahankannya untuk bergerak
melewati posisi dimana seharusnya lengan tersebut berhenti. Over-shoot dapat
dikurangi oleh pengendali namun hal ini memerlukan rise time yang
lebih lama. Settling time (TS) mengacu kepada waktu
yang diperlukan untuk respons dapat mencapai suatu daerah sekitar 2-5% dari
nilai akhir yang hendak dicapai. Dalam hal ini, waktu yang diperlukan hinggan
osilasi berhenti. Rise time, settling time dan over-shoot seluruhnya saling
berhubungan; perubahan pada salah satu parameter akan menyebabkan perubahan
pada yang lainnya.
Nilai
kesalahan (error) steady-state (ESS) dari sistim merupakan kesalahan
posisi akhir, yang merupakan selisih antara nilai / keadaan variabel yang
dikendalikan yang dicapai terhadap nilai yang seharusnya dicapai. Pada Gambar
11.2, Ess ditunjukkan sebagai kesalahan posisi setelah proses osilasi berhenti.
Kesalahan ini merupakan akibat dari gaya gesek, pembebanan dan ketelitian
sensor. Suatu pengendali yang kompleks dapat memperkecil nilai kesalahan steady-state hingga
mendekati 0.
Gambar 11.3. Respons Transient

0 komentar:
Posting Komentar